Ramadhan pun telah tiba, banyak orang memanfaatkan hal ini untuk kebaikan. Puasa wajib dilaksanakan oleh umat muslim, dan makanan minuman yang mewah banyak dihidangkan untuk melepas dahaga setelah seharian menahan lapar dan haus. Tapi hal ini tidak bisa dirasakan oleh keluarga bapak Amin yang hanya tinggal di pinggiran rel kereta api, mereka tidak bisa menikmati hidangan yang enak saat buka puasa, hanya ada sebakul nasi dan gorengan tempe serta air putih yang ada di meja makannya. Tetapi, mereka sudah merasa bersyukur dengan keadaan yang seperti ini, walaupun mereka tidak bisa menikmati makanan enak, tapi pak amin bisa menikmati buka puasa dengan anak satu-satunya.
Pak Amin ini sebenarnya adalah seorang pejuang di tahun 60an, beliau berjuang bersama teman-teman seperjuangannya untuk tetap mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Tetapi sangat disayangkan, karena kejadian itu kini pak amin harus rela kehilangan penglihatannya. Karena kekurangannya itu beliau tidak bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, selain pekerjaan yang harus ditekuninya yaitu berjualan es kedelai keliling yang sehari-hari dibantu anak perempuannya yang hanya bekerja jadi pemulung demi mencukupi kehidupan sehari-hari mereka. Anaknya hanya bisa bekerja memunguti sampah dan berharap pemerintah bisa memberikan santunan kepada bapaknya atas jasanya selama ini yang telah berjuang untuk mengharumkan bangsa Indonesia. Pekerjaan pak amin pun hanya menghasilkan maksimal 10 ribu sehari, itu kalau lagi banyak yang beli es kedelainya, penghasilan sebesar itu sudah dirasa amatlah cukup bagi mereka, walaupun sebenarnya kalau menuruti kata puas sangat amatlah kurang. Anaknya yang bernama Dewi itu juga hanya bisa bekerja membantu orang tuanya memunguti sampah ketika truk sampah datang, dia tidak bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih layak karena dia hanya memiliki ijazah SD saja.
Dua puluh Tiga tahun lamanya pak amin bekerja sebagai penjual es kedelai keliling, pekerjaan itu sangat ditekuninya demi keluarganya, tapi dalam bekerja selalu ada halangan karena keterbatasannya itu. Pak amin sering juga kena srempet kendaraan yang biasanya melintas di kampung yang dilewatinya berjualan. Tapi, pak amin gak menyerah begitu saja, dia tetap semangat dalam bekerja. Sampai suatu saat keadaan pak amin yang merasa lelah dan jatuh sakit, dia hendak memaksa untuk tetap berjualan. Anaknya pun tak tega melihat bapaknya dalam keadaan seperti itu, sambil mengaduk teh untuk bapaknyadan dewi pun menahan bapaknya untuk pergi berjualan.” Puasa bapak hari ini dibatalkan saja ya Pak, jangan memaksakan diri pak, bapak kan lagi sakit, dan bapak dirumah saja ya, biar dewi yang bekerja menggantikan bapak hari ini” pinta dewi dengan membantu membangunkan bapaknya.
“Iya nak, tapi nak, bapak hanya butuh istirahat sebentar, nanti siang paling juga sudah hilang pusingnya, jadi nanti siang bapak bisa berjualan lagi” Pak amin berusaha meyakinkan dewi, agar di ijinkan bekerja
“ Bapak, insyaallah dewi bisa kok kalau hari ini harus kerja dobel…dewi gak mau kalau bapak ada apa-apa di jalan. Ini pak, dewi buatin teh panas buat bapak” dewi menegukkan teh untuk bapaknya.
“ Ya sudah nak, kamu hati-hati ya. Maafkan bapak ya, bapak sudah merepotkan kamu” bapaknya pun tersenyum pada dewi.
“ Iya pak, doakan dewi ya semoga hari ini dapat uang banyak dan bisa beli obat buat bapak ya, dewi berangkat dulu pak, assalamualaikum” menjabat tangan bapaknya
Dewi pun berangkat dan mengawalinya dengan mengambil es kedelai dirumah tetangganya untuk dijual. Sepanjang jalan dia selalu berfikir bagaimana dia bisa mendapatkan uang untuk berobat bapaknya, dari dulu sebenarnya dia pengen bapaknya bisa melihat kembali, tapi impian itu hanya angan-angan saja, karena faktor biaya apalagi kini bapaknya sedang jatuh sakit, dia semakin kebingungan.
Ketika ada seorang lelaki yang hendak membeli, dan lelaki itu memanggilnya tapi dewi tak menoleh entah karena memang tak mendengar atau dia tehanyut oleh lamunannya. Lelaki itu mendekati dewi, “ maaf mbak, saya mau membeli es kedelainya, apakah masih ada, bungkus 5 ya?”, suara lelaki itu yang membangunkan dia dari lamunannya. “Oh iya maaf pak, es nya masih ada kok” membukakan tempat e situ. “ Biasanya yang berjualan es kedelai bapak-bapak ya mbak” tanya lelaki itu, “ iya, itu bapak saya pak, tapi sekarang bapak saya lagi sakit jadi saya yang menggantikan” jawab dewi dengan tersenyum tipis. “ Bapak sekarang sering jatuh sakit, dan saya hanya mampu membelikannya obat biasa” keluhnya. Tanpa sadar dewi cerita tentang sakit bapaknya, dan setelah mendengar cerita dari dewi, lelaki itu pengen melihat keadaan bapaknya, dia merasa prihatin dengan keadaan keluarganya. Dewi pun mengizinkan lelaki itu kerumahnya untuk melihat keadaan bapaknya, dan di sepanjang perjalanan sambil mendorong gerobak es kedelainya dewi menceritakan semua tentang keluarganya. “ Indonesia sudah merdeka sejak lama, tapi kenapa masih banyak rakyatnya yang kurang mendapat keadilan, pemerintah yang sudah kaya jadi semakin kaya, rakyat kecil yang miskin jadi semakin miskin” keluh dewi mencoba sabar. “ Wanita ini memang kuat” kata lelaki itu dalam hati, dia tak sadar kalau pernyataan tadi sebenarnya memang kenyataan yang dialaminya sekarang, bapaknya yang mantan pejuang itu tak pernah mendapat santunan atau paling tidak bantuan biaya untuk berobat setelah kejadian pada beberapa tahun lalu yang telah menyebabkan bapaknya tak bisa melihat lagi.
Tak terasa mereka sudah berjalan jauh, yang akhirnya sampai dirumahnya, dewi mempersilahkan lelaki itu masuk dan menunjukkan keadaan bapaknya yang terlihat wajahnyang semakin pucat. Lelaki itu melihat pak amin yang sedang berbaring di sebuah tempat tidur yang sangat sederhana, dia merasa sangat iba dengan keadaan seperti ini, tanpa sadar dia menoleh ke atas ranjang itu, dan dilihatnya ada sebuah foto pak amin yang bersama kawan-kawannya membawa senjata seperti orang yang siap berperang, foto itu memang sudah kusam, tapi wajah-wajah mereka masih sangat jelas sekali untuk dilihat. Setelah sekitar satu jam mereka ngobrol dengan pak amin dan dewi, lelaki itu pamit pulang, lelaki itu mengucapkan terima kasih karena dewi telah mengijinkan melihat bapaknya. Lelaki itu sebenarnya penasaran dengan foto tadi, dia berfikir apa pak amin itu sebenarnya dulu adalah mantan pejuang, tapi kenapa kehidupannya seperti ini.
Ketika dijalan, lelaki itu disapa oleh tetangga pak amin, tetangganya tau siapa sebenarnya lelaki itu,” Pak Rajif, bapak kan pejabat daerah ini kan, yang biasanya sering melakukan kunjungan di kampung-kampung itu?” tanya wanita itu terang-terangan. “ Iya benar buk, ibuk mengenali saya?” lelaki itu kembali bertanya, “ iya pak, saya sering melihat bapak di kampung sebelah, bapak dari mana, kok lewat sini?”. Lelaki itu berkata “ dari rumah pak amin buk, ibuk kenal?”, “ kenal pak, pak amin itu kalau didaerah sini banyak yang kenal pak, beliau kan mantan pejuang di era 60 an pak” jawab wanita itu bangga. Kalimat ibu itu yang membuat pejabat itu akhirnya menanyakan hal yang membuatnya penasaran tentang foto tadi, akhirnya wanita itu menceritakan semua tentang pak amin, termasuk hal tentang kehilangan penglihatannya itu. Setelah semuanya jelas, pak rajif langsung kembali ke kantor kabuapaten untuk menghadiri rapat yang membahas tentang santunan untuk para pejuang yang telah berjuang untuk Indonesia yang ada di derahnya, hal ini dilakukan untuk memperingati hari kemerdekaan RI yang akan datang tiga minggu lagi, pak Rajif memanfaatkan hal ini, dia mengutarakan apa yang telah dialaminya pagi ini, dan dia mengusulkan agar nama pak amin dimasukkan dalam daftar pejuang yang akan menerima santunan. Akhirnya pak rajif merasa lega, usulan itu diterima oleh pihak pemerintah setempat, apalagi sekarang para pejuang itu nantinya akan diberikan uang penghargaan setiap bulannya dari pemerintah setempat.
Hari pembagian santunan itu pun tiba, lima hari sebelum peringatan hari kemerdekaan RI santunan itu dibagikan bagi nama-nama pejuang terdahulu yang sudah ada di daftar. Kunjungan terakhir adalah kerumah pak amin, ketika para pejabat itu sampai dirumah pak amin, “ assalamualaikum” para pejabat itu berdiri di depan pintu pak amin. Dewi membuka pintu rumahnya, dan dia sempat kaget melihat lelaki yang mengunjungi bapaknya kemarin sekarang memakai pakaian dinas daerah, “ jadi bapak pejabat daerah ini pak?” tanyanya seketika pada lelaki itu. Para pejabat itu dipersilahkan masuk, lalu mereka menceritakan maksud kedatangannya itu, tetapi dewi tak kuasa menahan tangisnya, yang akhirnya dia mau membuka mulutnya kalau bapaknya kini sekarang sudah tiada dan dirasa bantuan itu sudah telat. Setelah diceritakan kejadian yang mengharukan itu, pak rajif dan para pejabat itu meminta dewi untuk tetap menerima santunan itu, karena walaupun pak amin sudah tak ada tapi dewi berhak menerimanya, karena dialah anaknya. Dengan penjelasan yang panjang, akhirnya dewi menerima uang itu, pak rajif berkata “ dengan uang ini,kamu bisa menggunakannya untuk modal berjualan, jadi kamu gak perlu jadi pemulung lagi”, kalimat itu ternyata dapat menumbuhkan semangat dewi lagi.
Dewi berjanji akan memanfaatkan uang itu dengan sebaik-baiknya, dan tentunya akan mewujudkan keinginan bapaknya yaitu bisa melakukan bakti sosial pada anak-anak yatim yang memang layak mendapatkan perhatian lebih. Dewi merasa kini bapaknya sudah mendapatkan keadilannya, yang sebenarnya selama ini bapaknya harapkan walaupun sekarang tidak bisa merasakan hasilnya, tapi dewi yakin bapaknya bisa merasakan kebahagiaan anaknya itu di surga.
“Bapak sayang sama kamu nak, jadilah kamu pejuang untuk orang lain dan dirimu sendiri” kalimat itu yang selalu diingat dewi dan menjadi semangatnya sekarang.
Hari kemerdekaan RI pun telah tiba, yaitu tanggal 17 agustus, dewi teringat dengan kebiasaan bapaknya setiap hari kemerdekaarn tiba, dan detik-detik proklamasi di kumandangkan dengan ditandai berkibarnya bendera merah putih, bapaknya selalu melakukan ritual hormat pada bendera merah putih dan menciumnya walaupun bendera yang mereka punya telah kusam. Hal ini sekarang dilakukan dewi sendiri tanpa kehadiran bapaknya yang sangat dirindukannya, dia pun tak bisa menghalangi air matanya keluar saat menciun sang saka itu.” Aku akan selalu menjaga bendera merah putih ini untuk bapak” katanya dengan mengusap air matanya dan kambali bangkit dari duduknya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar